Tuesday, August 16, 2005
AIR MATA RASULULLAH...
Tiba-tiba dari luar pintu terdengar seseorang yang berseru mengucapkan salam. "Bolehkah saya masuk?", tanyanya. Tapi Fatimah tidak mengizinkannya masuk, "Maafkanlah Ayahku sedang demam", kata Fatimah yang membalikkan badan dan menutup pintu.
Kemudian ia kembali menemani ayahnya yang ternyata sudah membuka mata dan bertanya pada Fatimah, "Siapakah itu wahai anakku?", "Tak tahulah ayahku, orang sepertinya baru sekali ini aku melihatnya," tutur Fatimah lembut. Lalu Rasulullah menatap puterinya itu dengan pandangan yang menggetarkan, seolah-olah bagian demi bagian wajah anaknya itu hendak dikenang. "Ketahuilah, dialah yang menghapuskan kemikmatan sementara, dialah yang memisahkan pertemuan di dunia, dialah malaikatul maut", kata Rasulullah. Fatimah pun menahan ledakan tangisnya. Malaikat maut datang menghampiri, tapi Rasulullah menanyakan mengapa Jibril tidak ikut bersama menyertainya. Kemudian dipanggillah Jibril yang sebelumnya sudah bersiap di atas langit dunia untuk menyambut ruh kekasih Allah dan penghulu dunia ini. "Jibril jelaskan apa hakku nanti dihadapan Allah?" tanya Rasulullah dengan suara yang amat lemah. "Pintu-pintu langit telah terbuka, para malaikat telah menanti ruhmu". "Semua surga terbuka lebar menanti kedatanganmu", kata Jibril. Tapi itu ternyata tidak membuat Rasulullah lega, matanya masih penuh dengan kecemasan. "Engkau tidak senang mendengar kabar ini?", tanya Jibril. "Kabarkan kepadaku bagaimana nasib umatku kelak?", tanya Rasulullah lagi. "Jangan khawatir, wahai Rasul Allah, aku pernah mendengar Allah berfirman kepadaku: "Kuharamkan surga bagi siapa saja, kecuali umat Muhammad telah berada di dalamnya", kata Jibril.
Detik-detik semakin dekat, tiba saatnya Izrail melakukan tugas. Perlahan ruh Rasulullah ditarik. Nampak seluruh tubuh Rasulullah bersimbah peluh, urat-urat lehernya menegang. "Jibril, betapa sakit sakaratul maut ini". Perlahan Rasulullah mengaduh. Fatimah terpejam, Ali yang disampingnya menunduk semakin dalam, dan Jibril memalingkan muka. "Jijikkah kau melihatku, hingga kau palingkan wajahmu Jibril?", tanya Rasulullah pada malaikat pengantar wahyu itu. "Siapakah yang sanggup, melihat kekasih Allah direnggut ajal", kata Jibril. Sebentar kemudian terdengar Rasulullah mengaduh, karena sakit yang tak tertahankan lagi. "Ya Allah, dahsyat nian maut ini, timpakan saja semua siksa maut ini padaku, jangan pada umatku", do’anya.
Badan Rasulullah mulai dingin, kaki dan dadanya sudah tidak bergerak lagi. Bibirnya bergetar seakan hendak membisikkan sesuatu, Ali segera mendekatkan telinganya. "Uushiikum bis shalati, wa maa malakat aimanuku" "Peliharalah shalat dan peliharalah orang-orang lemah diantaramu".
Diluar pintu tangis mulai terdengar bersahutan, sahabat saling berpelukan. Fatimah menutupkan tangan di wajahnya, dan Ali kembali mendekatkan telinganya ke bibir Rasulullah yang mulai kebiruan. "Ummatii, ummatii, ummatii..." "Umatku, umatku, umatku...". Dan berakhirlah hidup manusia mulia yang memberi sinaran itu.
Kini, mampukah kita mencintai sepertinya?
"Allahumma sholli 'ala Muhammad wa baarik wa salim 'alaihi"
Betapa cintanya Rasulullah kepada kita.
Perbaikilah rukukmu untuk mengurangi tekanan maut dan perbanyaklah membaca shalawat kepada Rasulullah SAW terutama dihari Jum'at, InsyaAllah kita akan mendapat syafa'atnya di dunia dan di Yaumil Mahsyar kelak… Amin Ya Robbal 'Alamin.
0o0